Sejarah Desa Pererenan

01 Januari 2026

Administrator

144 Kali dibaca

Desa Pererenan adalah salah satu Desa di Bali yang memiliki latar belakang sejarah yang erat kaitannya dengan berdirinya Kerajaan Kecil Tibu Beneng. Dokumen historis yang penting dalam memahami asal usul Desa Pererenan adalah babad "I Gusti Gede Meliling." Dalam babad ini, diceritakan bahwa pada masa pemerintahan "I Gusti Agung Nyoman Alakanjeng," yang juga dikenal sebagai raja Mengwi dengan gelar "Cokorda Munggu," terdapat kisah yang menceritakan bagaimana awal mula Desa Pererenan mulai terbentuk.

Kisah dimulai ketika Ida Cokorda pergi berburu, dan dalam setiap perjalanannya, beliau selalu mampir untuk bertemu "Dalem Sukawati" di Puri Sukawati. Namun, pada suatu perjalanan pulang dari berburu, Ida Cokorda merasa sangat lelah dan memutuskan untuk mampir di Puri Bun untuk beristirahat dan mendapatkan pijatan. Kyayi Nglurah Bun dengan murah hati mengizinkan "Ni Jero Meliling" untuk memijat raja.

Sementara "Ni Jero Meliling" melakukan pijatan, kecantikannya membuat Ida Cokorda terpikat. Singkat cerita, dari kehamilan Ni Jero Meliling, lahirlah seorang putra. Putra ini kemudian menjadi leluhur bagi seluruh keluarga besar "Jero Gede Pererenan."

Dalam pesan yang diberikan kepada Kiyayi Nglurah Bun, Ida Cokorda menyatakan bahwa jika yang lahir adalah seorang putra, maka putra tersebut harus diajak ke Puri Mengwi. Namun, jika yang lahir adalah seorang putri , Ida Cokorda berharap putri tersebut akan tetap berada di Puri Bun.

Ketika putra dari Ida Cokorda telah mencapai usia dewasa, sebagai tanggapan terhadap pesan yang telah diberikan oleh Ida Cokorda, ia segera menyusul dan menghadap Ida Cokorda, yang pada saat itu dihadiri oleh banyak pejabat kerajaan, termasuk penggawa, para patih, dan perdana menteri. Kehadiran mereka menciptakan atmosfer yang serupa dengan awal sebuah rapat penting. Ida Cokorda, dengan hangatnya, menyambut kedatangan tamu kerajaan tersebut dan meminta keterangan. Tamu tersebut tidak lain adalah Kyayi Nglurah Bun, Ni Jero Meliling, dan putra mereka. Kiyayi Nglurah Bun kemudian memberitahu kepada Ida Cokorda bahwa laki-laki yang menemani mereka adalah anak dari Ni Jero Meliling yang juga merupakan anak mereka. Oleh karena itu, pada saat itu juga, di hadapan seluruh pejabat kerajaan yang hadir, Sang Raja (Ida Cokorda) mengakui putra tersebut dan memberikannya nama "I Gusti Gede Meliling."

Sebagai bentuk rasa kasih sayang, Ida Cokorda memberikan amanat kepada I Gusti Gede Meliling, yang kemudian mendirikan Jero di Padang Luwih. Wilayah kekuasaannya meliputi Padang Luwih, Tibu Beneng, batas barat sawah Munduk Sempol (yang saat ini merupakan wilayah Desa Pererenan), Batas Selatan Kuta, Jimbaran, Kuta Mimba (Pecatu), hingga batas laut. Setelah menerima amanat kekuasaan dari Ida Cokorda, I Gusti Gede Meliling memperistri anak Ki Pasek Kerobokan, dan dari pernikahan tersebut lahirlah seorang putra yang diberi nama "I Gusti Gede Mangku." I Gusti Gede Mangku merupakan putra tertua dari keempat saudara tirinya.

Setelah I Gusti Gede Meliling wafat, tampaknya I Gusti Gede Mangku, putra tertua dari I Gusti Gede Meliling, menyadari tanggung jawab besar yang diembannya. Ia mengambil alih posisi ayahnya sebagai Raja dan memindahkan pusat pemerintahan ke Desa Tibu Beneng. I Gusti Gede Mangku, dalam kesadarannya akan peran dan tanggung jawabnya, melakukan semadi di Setra Dalem Padonan. Selama proses semadi tersebut, ia mendapat petunjuk dan mendapatkan sebuah keris yang diberi nama "I Don Buluh." Seiring dengan anugerah yang diterimanya, I Gusti Gede Mangku memutuskan untuk membangun sebuah pelinggih yang dinamai Pura Dalem Padonan. Dengan upaya dan anugerah ini, Kerajaan Tibu Beneng menjadi tempat yang aman, damai, dan rakyatnya sejahtera.

Diceritakan pula, Pada masa pemerintahan Ida Bhatara Sakti Pemecutan, kerajaan Badung mengalami perkembangan yang sangat pesat serta melakukan ekspansi wilayah yang agresif. Salah satu upaya mereka adalah memperkuat basis pertahanan di wilayah Padang Lambih Barat, yang dikenal dengan nama Kerobokan. Hal ini bertujuan untuk mengawasi dua wilayah yang menjadi basis terdepan dari Kerajaan Mengwi, yaitu Dalung dan Tibubeneng.

Perlahan namun pasti, Kerajaan Badung mulai menduduki sejumlah wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh Kerajaan Mengwi. Wilayah-wilayah ini antara lain Bukit, Benoa, Jimbaran, Kuta, Dalung, dan Tibubeneng. Pada sekitar tahun 1800 Masehi, Kerajaan Badung melancarkan serangan ke Tibubeneng, dan dalam pertempuran tersebut, Raja Tibubeneng, "I Gusti Gede Mangku," berhasil dikalahkan. Kabar tentang kematian I Gusti Gede Mangku menyebar dan sampai pada Ida Cokorda Mengwi, yang saat itu menjadi raja Kerajaan Mengwi. Kabar ini memicu kemarahan dalam dirinya.

Menghadapi situasi yang semakin rumit, Ida Cokorda Mengwi mengirim seorang prajurit bernama I Gede Suda untuk melakukan penyelidikan mendalam. Di tengah situasi perang yang sangat tegang, Prajurit I Gede Suda tidak hanya melakukan penyelidikan, tetapi juga berpartisipasi dalam upaya untuk menyelamatkan I Gusti Made Rai Sempidi beserta adik-adiknya yang masih belia. Mereka membawa barang- barang berharga termasuk "Keris I Don Buluh," "Gender," dan "Tulupan."

Dalam perjalanan yang penuh risiko ini, I Gede Suda didampingi oleh pengikut setia dan seorang tokoh keagamaan yang dikenal dengan sebutan Bhagawanta. Mereka akhirnya mencapai sebuah tempat terpencil yang dikenal sebagai Pitpitan. Namun, konflik tidak kunjung mereda, dan I Gede Suda terpaksa kembali ke medan perang yang semakin memanas untuk mempertahankan kelompok mereka dan menghadapi tantangan yang ada I Gede Suda pun bertempur kembali, karena kuatnya musuh akhirnya beliau pun gugur. Setelah mendengar berita tersebut putra raja Tibubeneng pergi dari pipitan menuju munduk sempol dan beliau memutuskan untuk menetap disana. Kemudian beliau menata wilayah tersebut menjadi suatu Desa dan mendirikan Grya Gede Kangkang, mendirikan linggih Ida Dalem Padonan, membangun jero serta lainnya. Setelah lama kemudian wilayah munduk sempol diberi nama Desa Pererenan. Yang diambil dari leluhur kerajaan Padang Luwih yang bernama I Gusti Meliling atau I Gusti Gede Pererenan.

Dalam konteks sejarah Desa Pererenan, peristiwa-peristiwa yang terjadi menjadi titik awal bagi perubahan signifikan dalam perkembangan Desa Pererenan. Selama periode awal kemerdekaan Republik Indonesia, Desa Pererenan awalnya digabungkan menjadi satu wilayah administrasi dengan Desa Buduk. Namun, perkembangan selanjutnya, wilayah ini dimekarkan pada tahun 2000, yang menghasilkan pembentukan tiga Desa terpisah, yaitu Desa Buduk, Desa Tumbak Bayuh, dan Desa Pererenan. Transformasi ini menandai langkah penting dalam sejarah administratif dan pembangunan masyarakat Desa Pererenan, yang terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Kirim Komentar

CAPTCHA Image

Komentar Facebook

Aparatur Desa

Back Next

Statistik

Arsip Artikel

161 Kali dibuka
I Kadek Budiarta Resmi Dilantik Sebagai Kelian Banjar Dinas Batu

160 Kali dibuka
Aksi Sosial: Sembako Dibagikan kepada Warga Membutuhkan di Pererenan

145 Kali dibuka
Upacara Piodalan di Padmasana Kantor Perbekel Pererenan

143 Kali dibuka
Peluncuran Mesin Gibrig di TPS 3R Sudha Pertiwi Desa Pererenan

127 Kali dibuka
Gerakan Bali Bersih Sampah Digelar di Pantai Pererenan

122 Kali dibuka
Bupati Badung Bertatap Muka dengan Perbekel se-Kecamatan Mengwi

106 Kali dibuka
Sosialisasi Pembinaan Kerukunan Umat Beragama Desa Pererenan

41 Kali dibuka
PENGUMUMAN RESMI: PEMENANG LELANG BARANG YANG DIHAPUS KANTOR DESA PERERENAN TAHUN 2026

38 Kali dibuka
Kegiatan Melayat di Rumah Duka Alm. Ni Nengah Senti di Banjar Pengembungan

34 Kali dibuka
Pemerintah Desa Pererenan Ngaturang Bhakti Penganyaran di Pura Mandhara Giri Semeru Agung, Lumajang, Jawa Timur

73 Kali dibuka
PENGUMUMAN PELELANGAN BARANG MILIK DESA TAHUN 2026

122 Kali dibuka
Bupati Badung Bertatap Muka dengan Perbekel se-Kecamatan Mengwi

88 Kali dibuka
Jadwal Pelayanan Kantor Perbekel Pererenan

145 Kali dibuka
Upacara Piodalan di Padmasana Kantor Perbekel Pererenan

161 Kali dibuka
I Kadek Budiarta Resmi Dilantik Sebagai Kelian Banjar Dinas Batu

160 Kali dibuka
Aksi Sosial: Sembako Dibagikan kepada Warga Membutuhkan di Pererenan

122 Kali dibuka
Bupati Badung Bertatap Muka dengan Perbekel se-Kecamatan Mengwi

41 Kali dibuka
PENGUMUMAN RESMI: PEMENANG LELANG BARANG YANG DIHAPUS KANTOR DESA PERERENAN TAHUN 2026

145 Kali dibuka
Upacara Piodalan di Padmasana Kantor Perbekel Pererenan

88 Kali dibuka
Jadwal Pelayanan Kantor Perbekel Pererenan

34 Kali dibuka
Pemerintah Desa Pererenan Ngaturang Bhakti Penganyaran di Pura Mandhara Giri Semeru Agung, Lumajang, Jawa Timur

Agenda

Untuk sementara belum ada Data Agenda yang dapat ditampilkan

Untuk sementara belum ada Data Agenda yang dapat ditampilkan

Sinergi Program

Pemerintah Kabupaten Badung
Sidumas Badung
SP4N LAPOR

Komentar

Media Sosial

Peta Wilayah Desa

Peta Lokasi Kantor

Alamat:jalan raya
:Pererenan
:Mengwi
:Badung
Kodepos:80351
Telepon:
Email:

Statistik Pengunjung

Hari ini:31
Kemarin:339
Total:18.595
Sistem Operasi:Unknown Platform
IP Address:216.73.216.251
Browser:Mozilla 5.0

APBD

APBDes 2026 Pelaksanaan

APBDes 2026 Pendapatan

APBDes 2026 Pembelanjaan